Beranda | Profil | Profesi | Pernik

Thursday, October 27, 2011

A tribute to Kang Harna: Berjiwa Besar dan Konsisten dalam Berjuang

Hudzil'afwa wa'mur bil 'urf wa a'ridh 'anil jaahiliin(QS Al A'raaf: 199)

“Jadilah Engkau Pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS Al A'raaf: 199)


Ketika seorang sahabat mengangkat ayat ini dalam kultumnya di pengajian rutin pekanan kami, hati ini cukup tersentak karena tanpa disadari, implementasi dan pelajaran nyata dari ayat ini justru sedang ada di depan mata ini. Ya, proses reshuffle atau penggantian menteri KIB II kemarin memberikan hal ini. Dan siapa lagi kalau bukan mantan Menristek, Suharna Surapranata, yang memberikan pelajaran terbaik dalam pengamalan ayat ini.


Ayat ini memerintahkan kita untuk melakukan tiga hal. Pertama adalah kita harus mampu memaafkan (hudzil ‘afwa). Artinya kita harus berjiwa besar, menyingkirkan ego pribadi kita yang mungkin terluka ketika sesuatu yang tidak meng-enak-kan terjadi dalam sebuah perjuangan. Ini yang memungkinkan kita untuk melaksanakan hal kedua, yaitu tetap menyuruh melakukan yang ma’ruf, artinya tetap berpegang teguh dan konsisten dengan misi kebaikan kita (wa’mur bil ‘urf). Dan yang ketiga, agar kita berpaling dari orang-orang yang bodoh atau dari suara-suara yang dapat memalingkan kita dari misi perjuangan tersebut (wa a’ridh ‘anil jahilin).


Sudah dipahami oleh publik bahwa pergantian Menristek kemarin bukanlah karena alasan kinerja. Berbagai prestasi sudah berhasil ditorehkan selama 2 tahun terakhir di Kementerian Riset dan Teknologi, meskipun memang karena merupakan kementerian yang bertugas merumuskan kebijakan dan bukan kementerian teknis yang bersinggungan langsung dengan masyarakat, ditambah dengan pembawaannya yang low-profile, keberhasilan itu mungkin tidak terlalu terlihat.


Dari aspek manajerial organisasi Kementerian Ristek, dirasakan oleh semua staf Ristek bahwa terjadi perubahan yang mendasar dalam pola kerja. Dengan berslogan “Focus, Locus dan Good News”, semua program di Ristek difokuskan untuk menuju satu titik, yaitu penguatan sistem inovasi nasional dalam rangka meningkatkan kontribusi iptek untuk pembangunan bangsa ini. Dengan anggaran dan otoritas intervensi yang terbatas, maka lokus kegiatan pun ditata sehingga tidak terjadi dillution effect (efek pelarutan). Artinya kegiatan-kegiatan kecil yang tersebar tanpa pengaturan yang jelas, dampaknya akan terlarut, tidak akan terasa. Terakhir Good News harus dimunculkan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada kemampuan Iptek nasional kita.


Pola kerja pun dirubah, dimulai dengan restrukturisasi unit-unit yang ada di Ristek sehingga diharapkan lebih mampu untuk mewujudkan penguatan sistem inovasi nasional. Setiap kegiatan yang ada dievaluasi secara rinci. Yang tidak terfokus kepada sistem inovasi, terpaksa dicoret. Tidak ada lagi kegiatan-kegiatan lepas dan kecil-kecil yang tidak terkoneksi dan terintegrasi dengan kegiatan lain. Lokus atau lokasi kegiatan yang tersebar pun dikumpulkan hanya di beberapa titik tetapi diharapkan berdampak besar. Yang lebih penting lagi, sekat-sekat unit organisasi perlahan-perlahan dihilangkan. Suatu unit yang selama ini asyik dengan kegiatan dirinya sendiri, tidak mengetahui dan tidak peduli dengan kegiatan di ruangan sebelahnya, dipaksa untuk membuka diri dan saling berkomunikasi. Pokja-pokja lintas kedeputian dan lintas eselon II pun dibangun untuk menghilangkan sekat-sekat ini.


Apresiasi pun muncul. Jiwa kebersamaan sebagai sebuah organisasi kementerian mulai terbangun. Apalagi kemudian program reformasi birokrasi mulai digulirkan. Berbagai sistem dibenahi. Laporan keuangan kementerian Ristek dalam 3 tahun berturut-turut mendapatkan opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian), predikat tertinggi dalam sistem audit keuangan lembaga di negara ini. Bandingkan dengan Kementerian Kesehatan atau Kementerian Pendidikan Nasional yang mendapatkan opini “disclaimer” dari BPK. Karena itulah, program remunerasi sebagai bagian dari reformasi birokrasi untuk kementerian Ristek disetujui untuk dijalankan mulai tahun 2012, bahkan Ristek diberikan kesempatan untuk mempercepatnya di tahun 2011 ini.


Tulisan ini bukan untuk menggambarkan capaian Ristek selama di bawah kepemimpinan Kang Harna (begitu Pak Suharna Surapranata akrab

dipanggil). Biarlah nanti menjadi sebuah tulisan tersendiri dengan ditunjang oleh data yang lebih valid. Tapi untuk memberikan gambaran capaian kinerja, konsep arah pembangunan Sistem Inovasi Nasional (SINas) sudah berhasil dibuat dan sudah mulai dijalankan. Beberapa daerah sudah siap dan mulai menjalankan program Sistem Inovasi Daerah (SIDa) untuk memperkuat daya saingnya dengan berdasarkan kepada produk dan sumber daya unggulan daerahnya masing-masing. Pilot project SIDa di Bantul didirikan dengan membangun taman energi yang terdiri dari kincir-kincir angin memanfaatkan teknologi pembangkit listrik tenaga bayu sebagai buah kolaborasi dan sinergi antar berbagai pihak. Listrik yang dihasilkan kemudian digunakan para nelayan untuk menghidupkan pabrik es batu yang sangat mereka perlukan untuk dapat mengawetkan ikannya. Dampak ekonomi dari sebuah kegiatan iptek pun terasa. Ini hanyalah satu contoh. Kegiatan-kegiatan diseminasi teknologi ke daerah, sekarang diupayakan terintegrasi dalam sebuah kerangka Sistem Inovasi Daerah sebagai hasil kolaborasi berbagai lembaga dan pihak terkait baik di daerah maupun di pusat, sehingga keberlanjutannya dapat dijaga.


Di level nasional, revitalisasi Puspiptek mulai dijalankan untuk menghidupkan kembali cita-cita mulia Bapak Teknologi kita – Prof. Dr. B.J. Habibie. Puspiptek mulai dihidupkan lagi dan ditata untuk perlahan-lahan menjadi sebuah technopark yang di dalamnya aktifitas penelitian tumbuh berkembang dan hidup berdampingan dengan dunia industri berbasis teknologi.

Melalui program insentif riset strategis, dibangunlah di Puspiptek misalnya instalasi biogas yang menghasilkan listrik dari kotoran sapi dengan kapasitas yang cukup besar untuk ukuran Indonesia. Juga di Puspiptek, dibangun prototipe pembangkit listrik tenaga surya yang kemudian diintegrasikan dengan grid listrik yang disediakan PLN. Proses intermediasi yang menemukan pihak pengguna dan penyedia teknologi pun mulai dibangun di Puspiptek. Bahkan tenaga SDM yang diharapkan menjalankan fungsi intermediasi ini sekarang sedang dilatih di Jerman, dan diharapkan ketika mereka pulang nanti akan menghidupkan aktivitas intermediasi teknologi di berbagai daerah di Indonesia.


Wajar kalau tokoh seperti Dr. Zuhal (Ketua Komite Inovasi Nasional dan mantan Menristek di era Presiden Habibie) mengatakan bahwa kalau di zaman Habibie iptek itu kuat karena anggaran yang besar dan dukungan kuat Presiden Soeharto, maka kalau sekarang iptek nasional mulai menggeliat lagi itu karena kepintaran Ristek itu sendiri.


Kerjasama internasional juga diarahkan untuk semakin produktif. Dr. Christian Steinen (Direktur Kerjasama Asia Pasifik, Kementerian Pendidikan dan Riset, Jerman) memberikan komentar bahwa hubungan Indonesia-Jerman dalam bidang iptek selama 8 bulan terakhir, jauh lebih baik bila dibandingkan selama 10 tahun terakhir. Sekali lagi, ini hanyalah satu contoh.


Wajar juga kalau kemudian banyak air mata yang menetes ketika Kang Harna berpamitan ke seluruh warga ristek. Kerendahan hati pak Menteri dan upaya membangun kebersamaan serta langkah-langkah membangun iptek nasional secara sistemik, ternyata cukup berbekas. Muncullah komentar-komentar spontan seperti: “sama sekali tidak fair”, “sedih .. !”, “speechless ..”, “belum pernah sesedih dan semules ini ... “ di facebook, BBM, SMS maupun yang terucap langsung.


Di sinilah letak pelajaran QS Al A’raaf 199 tadi. Kang Harna tetap berbesar hati. Ketika didesak dan dipancing oleh wartawan tentang detik-detik dan intrik-intrik menjelang pencopotannya, beliau hanya tersenyum dan mengatakan: “Sudah lah, itu sudah berlalu. Tidak penting membahas hal itu. Saya sudah diberi kepercayaan membantu Presiden dan sekarang tugas saya selesai, alhamdulillah”. Bahkan tampak betapa beliau menjadi “plong” dan segar. Setelah serah terima jabatan, tampak sekali beliau akrab bercanda dengan staf kementerian Ristek. Tidak tampak guratan kegusaran sama sekali. Berbesar hati dan memaafkan apa yang terjadi, menerimanya dengan dada lapang, tanpa dendam, tanpa satu pun ungkapan penyesalan atau menyalahkan orang lain.


Yang kedua, di PKS pun beliau terkenal sebagai tokoh yang berhasil mengeluarkan berbagai konsep-konsep pembangunan dan konsisten memperjuangkannya. Pemikiran-pemikiran strategisnya diakui dan beliau dianggap representasi tokoh yang tidak terjebak ke dalam gejala pragmatisme. Platform perjuangan PKS yang ditelorkannya diapresiasi tidak kurang oleh Sri Mulyani (mantan Menteri Keuangan) dan Jimly Asshidiqi (mantan Ketua MK). Platform Pembangunan Iptek Nasional juga beliau buat dan kemudian menjadi bahan dasar utama Renstra Kementerian Ristek 2010-2014 yang juga menjiwai RPJMN 2010-2014. Beliau juga yang membangun dari awal tahun 90-an jaringan SDM-SDM iptek nasional baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri. Ini yang kemudian menjelma menjadi MITI (Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia) yang diresmikan justru oleh SBY di tahun 2004 dengan disaksikan oleh Prof B.J. Habibie pada waktu itu.


Jadi kiprah Kang Harna membangun Iptek nasional bukanlah dilakukan hanya dalam 2 tahun terakhir ketika menjabat sebagai Menristek. Dan itulah al ‘urf (hal yang ma’ruf yang diperjuangkan) beliau. Dan selepas menjadi menteri pun, dia tetap bertekad membangun iptek meskipun tidak di dalam pemerintahan. Menumbuhkan techno-enterpreneurship dan kaderisasi SDM iptek, merupakan obsesi beliau. Tetap konsisten dengan apa yang diperjuangkan. Tidak goyah hanya dengan satu kejadian, meskipun kejadian itu menghantam pribadi kita sebagai individu. Itulah pelajaran nyata dari pesan ke-2 ayat tadi: “wa’mur bil’urf”, tetap menyeru orang kepada kebaikan, konsisten dengan misi yang sedang kita perjuangkan.


Pesan ke-3 ayat tadi adalah untuk berpaling dari orang-orang bodoh. Ini seiring dengan pesan ke-2 untuk tetap konsisten, tidak terpalingkan oleh suara-suara atau bahkan upaya orang lain untuk membelokkan kita dari misi yang tengah kita perjuangkan. Misi membangun iptek akan terus berjalan, dan akan terus diperjuangkan oleh Kang Harna. Di mana pun dan kapan pun beliau berkiprah, sederas apa pun suara dan upaya untuk memarjinalkan iptek di negeri ini. Itu adalah suatu keyakinan.


Ade Komara Mulyana

Ditulis sebagai ungkapan rasa syukur atas kesempatan dan kepercayaan sebagai Staf Khusus Menristek, mendampingi Kang Harna selama 2 tahun.



No comments: