Beranda | Profil | Profesi | Pernik

Thursday, October 27, 2011

A tribute to Kang Harna: Berjiwa Besar dan Konsisten dalam Berjuang

Hudzil'afwa wa'mur bil 'urf wa a'ridh 'anil jaahiliin(QS Al A'raaf: 199)

“Jadilah Engkau Pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS Al A'raaf: 199)


Ketika seorang sahabat mengangkat ayat ini dalam kultumnya di pengajian rutin pekanan kami, hati ini cukup tersentak karena tanpa disadari, implementasi dan pelajaran nyata dari ayat ini justru sedang ada di depan mata ini. Ya, proses reshuffle atau penggantian menteri KIB II kemarin memberikan hal ini. Dan siapa lagi kalau bukan mantan Menristek, Suharna Surapranata, yang memberikan pelajaran terbaik dalam pengamalan ayat ini.


Ayat ini memerintahkan kita untuk melakukan tiga hal. Pertama adalah kita harus mampu memaafkan (hudzil ‘afwa). Artinya kita harus berjiwa besar, menyingkirkan ego pribadi kita yang mungkin terluka ketika sesuatu yang tidak meng-enak-kan terjadi dalam sebuah perjuangan. Ini yang memungkinkan kita untuk melaksanakan hal kedua, yaitu tetap menyuruh melakukan yang ma’ruf, artinya tetap berpegang teguh dan konsisten dengan misi kebaikan kita (wa’mur bil ‘urf). Dan yang ketiga, agar kita berpaling dari orang-orang yang bodoh atau dari suara-suara yang dapat memalingkan kita dari misi perjuangan tersebut (wa a’ridh ‘anil jahilin).


Sudah dipahami oleh publik bahwa pergantian Menristek kemarin bukanlah karena alasan kinerja. Berbagai prestasi sudah berhasil ditorehkan selama 2 tahun terakhir di Kementerian Riset dan Teknologi, meskipun memang karena merupakan kementerian yang bertugas merumuskan kebijakan dan bukan kementerian teknis yang bersinggungan langsung dengan masyarakat, ditambah dengan pembawaannya yang low-profile, keberhasilan itu mungkin tidak terlalu terlihat.


Dari aspek manajerial organisasi Kementerian Ristek, dirasakan oleh semua staf Ristek bahwa terjadi perubahan yang mendasar dalam pola kerja. Dengan berslogan “Focus, Locus dan Good News”, semua program di Ristek difokuskan untuk menuju satu titik, yaitu penguatan sistem inovasi nasional dalam rangka meningkatkan kontribusi iptek untuk pembangunan bangsa ini. Dengan anggaran dan otoritas intervensi yang terbatas, maka lokus kegiatan pun ditata sehingga tidak terjadi dillution effect (efek pelarutan). Artinya kegiatan-kegiatan kecil yang tersebar tanpa pengaturan yang jelas, dampaknya akan terlarut, tidak akan terasa. Terakhir Good News harus dimunculkan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada kemampuan Iptek nasional kita.


Pola kerja pun dirubah, dimulai dengan restrukturisasi unit-unit yang ada di Ristek sehingga diharapkan lebih mampu untuk mewujudkan penguatan sistem inovasi nasional. Setiap kegiatan yang ada dievaluasi secara rinci. Yang tidak terfokus kepada sistem inovasi, terpaksa dicoret. Tidak ada lagi kegiatan-kegiatan lepas dan kecil-kecil yang tidak terkoneksi dan terintegrasi dengan kegiatan lain. Lokus atau lokasi kegiatan yang tersebar pun dikumpulkan hanya di beberapa titik tetapi diharapkan berdampak besar. Yang lebih penting lagi, sekat-sekat unit organisasi perlahan-perlahan dihilangkan. Suatu unit yang selama ini asyik dengan kegiatan dirinya sendiri, tidak mengetahui dan tidak peduli dengan kegiatan di ruangan sebelahnya, dipaksa untuk membuka diri dan saling berkomunikasi. Pokja-pokja lintas kedeputian dan lintas eselon II pun dibangun untuk menghilangkan sekat-sekat ini.


Apresiasi pun muncul. Jiwa kebersamaan sebagai sebuah organisasi kementerian mulai terbangun. Apalagi kemudian program reformasi birokrasi mulai digulirkan. Berbagai sistem dibenahi. Laporan keuangan kementerian Ristek dalam 3 tahun berturut-turut mendapatkan opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian), predikat tertinggi dalam sistem audit keuangan lembaga di negara ini. Bandingkan dengan Kementerian Kesehatan atau Kementerian Pendidikan Nasional yang mendapatkan opini “disclaimer” dari BPK. Karena itulah, program remunerasi sebagai bagian dari reformasi birokrasi untuk kementerian Ristek disetujui untuk dijalankan mulai tahun 2012, bahkan Ristek diberikan kesempatan untuk mempercepatnya di tahun 2011 ini.


Tulisan ini bukan untuk menggambarkan capaian Ristek selama di bawah kepemimpinan Kang Harna (begitu Pak Suharna Surapranata akrab

dipanggil). Biarlah nanti menjadi sebuah tulisan tersendiri dengan ditunjang oleh data yang lebih valid. Tapi untuk memberikan gambaran capaian kinerja, konsep arah pembangunan Sistem Inovasi Nasional (SINas) sudah berhasil dibuat dan sudah mulai dijalankan. Beberapa daerah sudah siap dan mulai menjalankan program Sistem Inovasi Daerah (SIDa) untuk memperkuat daya saingnya dengan berdasarkan kepada produk dan sumber daya unggulan daerahnya masing-masing. Pilot project SIDa di Bantul didirikan dengan membangun taman energi yang terdiri dari kincir-kincir angin memanfaatkan teknologi pembangkit listrik tenaga bayu sebagai buah kolaborasi dan sinergi antar berbagai pihak. Listrik yang dihasilkan kemudian digunakan para nelayan untuk menghidupkan pabrik es batu yang sangat mereka perlukan untuk dapat mengawetkan ikannya. Dampak ekonomi dari sebuah kegiatan iptek pun terasa. Ini hanyalah satu contoh. Kegiatan-kegiatan diseminasi teknologi ke daerah, sekarang diupayakan terintegrasi dalam sebuah kerangka Sistem Inovasi Daerah sebagai hasil kolaborasi berbagai lembaga dan pihak terkait baik di daerah maupun di pusat, sehingga keberlanjutannya dapat dijaga.


Di level nasional, revitalisasi Puspiptek mulai dijalankan untuk menghidupkan kembali cita-cita mulia Bapak Teknologi kita – Prof. Dr. B.J. Habibie. Puspiptek mulai dihidupkan lagi dan ditata untuk perlahan-lahan menjadi sebuah technopark yang di dalamnya aktifitas penelitian tumbuh berkembang dan hidup berdampingan dengan dunia industri berbasis teknologi.

Melalui program insentif riset strategis, dibangunlah di Puspiptek misalnya instalasi biogas yang menghasilkan listrik dari kotoran sapi dengan kapasitas yang cukup besar untuk ukuran Indonesia. Juga di Puspiptek, dibangun prototipe pembangkit listrik tenaga surya yang kemudian diintegrasikan dengan grid listrik yang disediakan PLN. Proses intermediasi yang menemukan pihak pengguna dan penyedia teknologi pun mulai dibangun di Puspiptek. Bahkan tenaga SDM yang diharapkan menjalankan fungsi intermediasi ini sekarang sedang dilatih di Jerman, dan diharapkan ketika mereka pulang nanti akan menghidupkan aktivitas intermediasi teknologi di berbagai daerah di Indonesia.


Wajar kalau tokoh seperti Dr. Zuhal (Ketua Komite Inovasi Nasional dan mantan Menristek di era Presiden Habibie) mengatakan bahwa kalau di zaman Habibie iptek itu kuat karena anggaran yang besar dan dukungan kuat Presiden Soeharto, maka kalau sekarang iptek nasional mulai menggeliat lagi itu karena kepintaran Ristek itu sendiri.


Kerjasama internasional juga diarahkan untuk semakin produktif. Dr. Christian Steinen (Direktur Kerjasama Asia Pasifik, Kementerian Pendidikan dan Riset, Jerman) memberikan komentar bahwa hubungan Indonesia-Jerman dalam bidang iptek selama 8 bulan terakhir, jauh lebih baik bila dibandingkan selama 10 tahun terakhir. Sekali lagi, ini hanyalah satu contoh.


Wajar juga kalau kemudian banyak air mata yang menetes ketika Kang Harna berpamitan ke seluruh warga ristek. Kerendahan hati pak Menteri dan upaya membangun kebersamaan serta langkah-langkah membangun iptek nasional secara sistemik, ternyata cukup berbekas. Muncullah komentar-komentar spontan seperti: “sama sekali tidak fair”, “sedih .. !”, “speechless ..”, “belum pernah sesedih dan semules ini ... “ di facebook, BBM, SMS maupun yang terucap langsung.


Di sinilah letak pelajaran QS Al A’raaf 199 tadi. Kang Harna tetap berbesar hati. Ketika didesak dan dipancing oleh wartawan tentang detik-detik dan intrik-intrik menjelang pencopotannya, beliau hanya tersenyum dan mengatakan: “Sudah lah, itu sudah berlalu. Tidak penting membahas hal itu. Saya sudah diberi kepercayaan membantu Presiden dan sekarang tugas saya selesai, alhamdulillah”. Bahkan tampak betapa beliau menjadi “plong” dan segar. Setelah serah terima jabatan, tampak sekali beliau akrab bercanda dengan staf kementerian Ristek. Tidak tampak guratan kegusaran sama sekali. Berbesar hati dan memaafkan apa yang terjadi, menerimanya dengan dada lapang, tanpa dendam, tanpa satu pun ungkapan penyesalan atau menyalahkan orang lain.


Yang kedua, di PKS pun beliau terkenal sebagai tokoh yang berhasil mengeluarkan berbagai konsep-konsep pembangunan dan konsisten memperjuangkannya. Pemikiran-pemikiran strategisnya diakui dan beliau dianggap representasi tokoh yang tidak terjebak ke dalam gejala pragmatisme. Platform perjuangan PKS yang ditelorkannya diapresiasi tidak kurang oleh Sri Mulyani (mantan Menteri Keuangan) dan Jimly Asshidiqi (mantan Ketua MK). Platform Pembangunan Iptek Nasional juga beliau buat dan kemudian menjadi bahan dasar utama Renstra Kementerian Ristek 2010-2014 yang juga menjiwai RPJMN 2010-2014. Beliau juga yang membangun dari awal tahun 90-an jaringan SDM-SDM iptek nasional baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri. Ini yang kemudian menjelma menjadi MITI (Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia) yang diresmikan justru oleh SBY di tahun 2004 dengan disaksikan oleh Prof B.J. Habibie pada waktu itu.


Jadi kiprah Kang Harna membangun Iptek nasional bukanlah dilakukan hanya dalam 2 tahun terakhir ketika menjabat sebagai Menristek. Dan itulah al ‘urf (hal yang ma’ruf yang diperjuangkan) beliau. Dan selepas menjadi menteri pun, dia tetap bertekad membangun iptek meskipun tidak di dalam pemerintahan. Menumbuhkan techno-enterpreneurship dan kaderisasi SDM iptek, merupakan obsesi beliau. Tetap konsisten dengan apa yang diperjuangkan. Tidak goyah hanya dengan satu kejadian, meskipun kejadian itu menghantam pribadi kita sebagai individu. Itulah pelajaran nyata dari pesan ke-2 ayat tadi: “wa’mur bil’urf”, tetap menyeru orang kepada kebaikan, konsisten dengan misi yang sedang kita perjuangkan.


Pesan ke-3 ayat tadi adalah untuk berpaling dari orang-orang bodoh. Ini seiring dengan pesan ke-2 untuk tetap konsisten, tidak terpalingkan oleh suara-suara atau bahkan upaya orang lain untuk membelokkan kita dari misi yang tengah kita perjuangkan. Misi membangun iptek akan terus berjalan, dan akan terus diperjuangkan oleh Kang Harna. Di mana pun dan kapan pun beliau berkiprah, sederas apa pun suara dan upaya untuk memarjinalkan iptek di negeri ini. Itu adalah suatu keyakinan.


Ade Komara Mulyana

Ditulis sebagai ungkapan rasa syukur atas kesempatan dan kepercayaan sebagai Staf Khusus Menristek, mendampingi Kang Harna selama 2 tahun.



Friday, November 14, 2008

Waktu Bersama Anak ...

Ayah, what time r u coming home? U said we’ll be going out for dinner tonight”. Saya membaca SMS dari si sulung itu menjelang waktu Maghrib di tengah kemacetan Jalan Tol Kota menuju sebuah pertemuan di sebuah hotel di Jakarta. Si sulung memang tidak ter-update bahwa hari itu saya tidak bisa memenuhi janji saya untuk makan di luar bersama anak-anak. Meskipun sudah bilang ke istri dan anak-anak yang lain, tak urung perasaan bersalah menggunung juga. Kuketik: “I really have to say sorry. I’m underway to a meeting in Jkt. Let’s try to do it tomorrow”. Itulah janjiku kepadanya.

Semuanya ini gara-gara diklat yang tiga minggu harus saya ikuti. Selama diklat, anak-anak jadi jarang melihat ayahnya, kecuali hari Minggu. Kalau pun mabur dari diklat, paling waktunya malam dan anak-anak sudah tidur. Kebetulan selama diklat itu, istriku pun mendapatkan order kerja yang lumayan. Jadi relatif sering ke luar rumah, bahkan juga harus keluar kota. Jadilah untuk menebus dosa ini, saya menjanjikan anak-anak untuk makan-makan bersama di luar rumah.

Kebiasaan ini memang selalu saya jalankan. Setelah beberapa waktu, selalu saya usahakan agar keluarga bisa bersama-sama menjalankan satu acara. Apalagi kalau saya baru menyelesaikan tugas ke luar dalam waktu yang agak lama. Jalan-jalan kek, makan di mana kek... yang penting ngumpul bersama-sama. Tujuannya?

Saya percaya bahwa komunikasi adalah kunci utama kesukesan membina keluarga, termasuk membina anak-anak kita. Ketika komunikasi antar anak dan orang tua mulai tersumbat, biasanya mulailah masalah timbul. Masih mending kalau masalah itu terdeteksi karena komunikasi yang intens. Kalau tidak ada komunikasi, si anak sibuk dengan dunianya dan si ortu juga sibuk dengan dunianya. Akibatnya? Ketika ada masalah, tidak terdeteksi dari awal dan tahu-tahu sudah membesar sehingga sulit dipecahkan.

Berkomunikasi dengan anak memerlukan keterampilan tersendiri. Tidak semua anak bisa bersikap terbuka dan dengan spontan bercerita tentang dunianya kepada kita. Apalagi menjelang usia remaja.

Si sulung tadi sekarang menginjak kelas 1 SMP atau kelas 7 menurut istilah sekarang. Biasanya saya harus memutar otak dengan keras agar dia mau bercerita tentang dirinya, tentang sekolahnya, tentang teman-temannya, atau tentang hal yang lainnya. Beda ketika dia masih usia di bawah 10 tahun. Dengan mudah saya bisa mengorek informasi yang saya maui dari dia. Saya ajak bicara dia tentang buku yang dia baca, saya ajak dia main bola bersama, saya ajak dia mengerjakan sesuatu bersama, saya ajak dia jalan-jalan, dan sambil melakukannya itu saya menyerap informasi sebanyak mungkin tentang dunia dia. Bahkan tidak jarang, saya pancing dia dengan menceritakan dunia saya terlebih dahulu kepadanya (dalam bahasa anak-anak tentunya) ketika dia terlihat agak malas untuk bercerita.

Sekarang, dia tidak semudah itu lagi berbicara dan saya harus berjuang agar tetap dekat dengan dia. Dan sebagai bagian dari perjuangan itu, akhirnya tadi malam saya sekeluarga mendapatkan waktu untuk makan malam bersama di luar. Itulah investasi masa depan.

Tidak ada yang istimewa yang dibicarakan selama makan. Hanya membicarakan menu makanan yang diorder, enak tidaknya, perbandingan dengan restoran yang lain, atau saling meledek karena menu yang dipilih masing-masing, dan sebagainya (saya diledek habis karena pesan menu yang sangat tradisional .. *smile*). Yang penting komunikasi terbuka.

Saya bayangkan kalau saya tidak menjanjikan hal ini kepada anak-anak, tidak mungkin si sulung akan SMS menanyakan jam berapa saya pulang. Kalau tidak seperti ini, saya akan sulit untuk meledek dia dan dia tidak akan punya kesempatan untuk meledek saya.

Karena itulah, malam tadi perasaan berbunga-bunga mewarnai hati. Keluargaku, surgaku. Merekalah orang-orang terdekat dengan saya dan karena itu harus betul-betul dekat segalanya.
Ya Allah, berkahilah kami dan anak-anak kami. Jadikanlah mereka penghias hidup kami di dunia dan akhirat...

Untuk yang rumahnya sudah dihiasi anak-anak, janganlah ragu untuk berinvestasi menjaga kedekatan hubungan dengan anak-anak kita.
Untuk yang sedang menunggu, insya Allah, DIA akan memberikan yang terbaik untuk kita ...

Bogor, 14 November 2008

Wednesday, October 29, 2008

Menikmati Diklat (Peneliti)

Kegiatan utama saya di kantor selama ini memang kegiatan penelitian. Sebabnya, ya karena saya ditempatkan di unit litbang kantor. Tahun ini misalnya, saya meneliti sumber data yang dihasilkan satelit baru seperti ALOS (Jepang) dan TerraSAR-X (Jerman) untuk dikaji apakah sumber data baru itu cocok untuk kegiatan pemetaan di Indonesia, khususnya di BAKOSURTANAL – kantor tempat saya bekerja. Karena melakukan penelitian itulah, di kartu nama pun saya tidak segan mendeklarasikan diri sebagai seorang research scientist atau research engineer, atau dalam bahasa Indonesianya sebagai seorang peneliti.

Meskipun demikian, secara legal formal saya bukanlah seorang peneliti. Peneliti adalah sebuah jabatan fungsional yang diatur oleh peraturan perundangan tertentu. Diangkat atau diresmikan setelah memenuhi syarat-syarat tertentu, naik pangkat dan jabatan dengan mekanisme tertentu, dan tentunya juga dengan tunjangan peneliti yang diatur khusus juga. Nah, karena toh kebanyakan kegiatan saya adalah penelitian, lingkungan di sekitar saya sedikit menekan agar saya menjadi seorang peneliti yang formal diakui oleh UU sebagai peneliti. Salah satu keuntungannya adalah agar bisa naik pangkat dengan cepat (bisa 2 tahun sekali, bila dibanding naik pangkat biasa yang 4 tahun sekali), kata mereka.

Nah, untuk jadi seorang peneliti itulah, syarat pertama adalah mengikuti diklat fungsional peneliti tingkat pertama yang diselenggarakan oleh LIPI sebagai lembaga yang bertugas dan berwenang mengatur segala hal terkait dengan penelitian di lembaga pemerintah. Diklat itu sendiri rutin diadakan oleh LIPI secara bergelombang. Kita tinggal daftar, dan LIPI akan memanggil kita ketika tersedia tempat.

Setelah beberapa kali gagal dan diundur-undur dengan alasan kesibukan yang lain (saya sudah dicalonkan untuk mengikuti diklat ini sejak tahun lalu), akhirnya mulai Kamis yang lalu (tanggal 16 Oktober 2008) saya pun memasuki kawah candradimuka yang akan mempersiapkan para calon peneliti Indonesia untuk menjadi peneliti yang handal. Berbekal pengalaman mengikuti diklat jabatan yang pernah saya ikuti (yaitu Diklatpim IV karena saya gini-gini juga adalah pejabat eselon IV), saya datang ke diklat ini dengan mindset untuk “menikmatinya”.

Apa yang bisa kita nikamti dari diklat semacam ini?

Peserta diklat-diklat seperti ini biasanya diasramakan sehingga panitia bisa menjadwalkan diklat secara optimal. Dengan pola seperti ini, banyak hal yang dapat kita nikmati ketika mengikuti sebuah diklat. Pertama, teraturnya hidup kita. Sehari-hari kadang jadwal kita nggak karuan. Datang ke kantor pagi, siang ada rapat di mana, sore ada orang janjian minta bertemu, malam mungkin mengerjakan objekan atau ada pertemuan untuk membahas kerjaan di luar kantor. Di diklat hidup kita sungguh teratur. Bangun pagi, olahraga, sarapan, kemudian ada kelas, ada tugas sampai malam. Jadwal istirahat sudah jelas, baik itu break minum kopi ataupun break makan siang dan malam. Pokonya, diklat itu menyehatkan badan.

Kedua, terbebasnya pikiran dari beban pekerjaan. Di awal diklat mungkin otak kita masih terbebani beban pekerjaan yang mungkin belum kita selesaikan. Dengan ditugaskannya kita mengikuti diklat, maka kita juga dibebastugaskan dari pekerjaan kita di kantor. Jadi kita bisa berkata: “Peduli amat, terserah mereka yang ada di kantor. Pokoknya aku merdeka!” Beban pikiran kita bisa terfokus kepada tugas-tugas diklat yang saya yakin, jauh lebih ringan dari real life yang kita hadapi sehari-hari di kantor. Nah, hari Selasa besok sebenarnya ada tugas kantor yang sangat berat yang harus saya jalankan. Sebagai ketua tim perumus Rancangan UU tentang informasi geospasial nasional, saya harusnya hadir untuk mempertahankan rumusan RUU itu di Dephukham di hadapan departemen dan instansi lain. Suatu tugas yang berat dan sangat krusial, karena itu merupakan saringan sebelum RUU itu bisa masuk DPR untuk dibahas. Alhamdulillah, teman-teman di tim ini sudah mengatakan bahwa mereka akan handle masalah ini, dan kalau memang saya tidak bisa meninggalkan diklat mereka akan berjuang tanpa saya.

Ketiga, saya sangat menikmati perluasan networking yang kita miliki. Peserta diklat biasanya berasal dari berbagai instansi. Di diklat peneliti yang sekarang saya ikuti ini, ada peserta dari Lemigas DESDM, ada yang dari BATAN, ada yang dari BPS, ada yang dari LPRI (Lembaga Riset Perkebunan Indonesia, kalau anda baru tahu, sama saya juga baru tahu) dari berbagai balai di Sumatera dan Jawa, dan ada yang dari Balai Besar tentang tekstil dari Deperin di Bandung. Dan karena peserta berkumpul, sehidup semati, menikmati suka dan duka yang sama (banyaknya sih suka-nya) dalam waktu yang cukup panjang (diklat ini berlangsung selama 3 minggu), tentu bonding atau ikatan di antara peserta akan terjalin dengan kuat. Jadi tidak hanya sekedar kenal, tetapi lebih dari kenal (apa pun itu maknanya).

Keempat adalah belajar. Para instruktur memang sering mengatakan bahwa untuk seorang S3 mungkin diklat ini tidak diperlukan lagi. Tapi sikap saya adalah bahwa saya siap untuk belajar. Saya yakin, pasti akan tambahan ilmu pengetahuan dari mereka. Apalagi yang mengajar adalah para suhu di bidang penelitia. Kebanyakan adalah para APU (bukan apusan) alias Ahli Peneliti Utama yang sudah bergelar profesor riset. Paling tidak, mereka berpengalaman dalam hal bagaimana mengumpulkan angka kredit sehingga bisa naik dengan cepat dan tunjangan pun tentu mengikuti.

Kenikmatan lain? Mungkin ada juga, tapi tidak terpikir ketika saya mengetik tulisan ini. Yang jelas, saya inget banget ketika selesai mengikuti diklatpim IV, saya bergumam: “Waduh, harus tenggelam dalam rutinitas pekerjaan lagi nih!”.

Tuesday, September 23, 2008

MATI LAMPU

Mei 2007
Bahwa dalam keadaan tidur dan mata terpejam kita masih bisa mengindera perubahan cahaya di sekitar kita, mungkin satu hal yang sering luput dari perhatian kita. Sensitifitas mata kita yang kemudian tersambung ke sistem syaraf yang rumit dalam tubuh kita memang luar biasa.
Waktu itu saya sedang terlelap tidur. Lampu di kamar memang tidak dimatikan waktu itu. Mungkin ini harus disyukuri karena ada sebagian orang tidak bisa tidur kecuali kalau lampunya dimatikan, sementara sebagian lain justru harus tidur dengan diterangi cahaya lampu. Buat saya hal itu tidak masalah.

Kemudian tiba-tiba saya terbangun. Penyebabnya? Ternyata kamar menjadi gelap gulita, listrik mati. Saat itulah saya berpikir seperti tadi. Sungguh hebat mata kita. Dalam keadaan tidur dan terpejam pun, masih bisa meng-sensor (bukan sensor film maksudnya) perubahan cahaya yang terjadi. Sampai membuat saya terbangun.

Tapi saya tidak akan cerita tentang hebatnya mata kita itu. Kejadian itu justru mengilhami saya untuk menulis satu pernik yang sering ditemui di negeri tercinta: mati lampu.

Kebetulan saya tinggal di Bogor. Well, nggak kebetulan sih. Memang direncanakan untuk tinggal di Bogor, kok. Yang jelas, dengan julukannya sebagai Kota Hujan, Bogor termasuk daerah dengan curah hujan tinggi. Hujan tentunya biasa disertai dengan kilat dan guntur. Saya pernah dengar misalnya bahwa Cibinong adalah daerah dengan frekuensi kilat no.3 di dunia. Prestasi yang hebat toh?

Saya tidak terlalu ngerti kaitannya secara teknis apakah kalau hujan besar diiringi kilat dengan frekuensi (keseringan) yang tinggi itu membahayakan, sedemikian sehingga aliran listrik harus dimatikan. Faktanya memang kalau hujan besar, banyak kilat, ya siap-siap saja listrik mati.
Yang jelas juga, modem internal di komputer saya pernah jebol karena kilat. Saya memang mendapat nasihat bahwa kalau hujan besar sebaiknya cabut saja kabel power komputer, TV atau alat-alat elektronik lainnya. Waktu itu, kabel powernya memang saya cabut, tapi kabel telepon yang nyambung ke modem terlupakan sehingga tetap terpasang. Walhasil, gugurlah modem saya itu. By the way, itu modem masih yang saya beli di US sana, jadi memang tidak didesain anti kilat. Sekarang sudah saya ganti, ternyata di Indonesia sini banyak tersedia modem yang katanya didesain anti kilat. Saya sendiri belum pernah membuktikannya. Setiap hujan besar, langsung saya cabut kabelnya. Lha, daripada resiko terkena kilat lagi.

Cuaca mungkin memang salah satu penyebab seringnya (relatif) listrik mati di negeri ini. Tetapi ada hal lain.
Bulan Desember yang lalu, saya pergi ke Medan karena ada pekerjaan kantor. Walah, waktu saya di sana ternyata listrik sering sekali mati. Bisa empat kali sehari! Dan kata orang Medan sana, hal itu sudah berlangsung selama beberapa minggu. Kemudian saya dengar hal serupa terjadi di beberapa kota lain di Sumatera. Mengapa? Yang jelas bukan karena hujan atau karena fenomena alam.

Belakangan muncul informasi bahwa ketersediaan listrik di daerah Sumatera waktu itu memang terbatas, sehingga “jam nyala” terpaksa harus digilir. Konon katanya, PLN di daerah sana itu proyek pengadaan listriknya terbengkalai karena tidak ada orang yang jadi mau pimpro alias penanggungjawab kegiatan. Alasan mereka, pada takut sama KPK. Dalam sistem birokrasi sekarang, memang hampir tidak mungkin untuk menjalankan satu kegiatan tanpa ada pelanggaran administrasi sama sekali. Dan kalau sudah jadi temuan, ya para pimpro itulah yang pertama dikorbankan sebelum para pejabatnya tersentuh. Nah, daripada nantinya jadi tumbal, ya mendingan menolak tugas saja di awal. Akibatnya ya itu tadi. Beberapa proyek atau kegiatan terbengkalai tidak ada yang menangani, dan kalau itu sudah menyangkut hajat hidup orang banyak maka masyarakat juga yang jadi korban.

Mungkin ada juga penyebab lain. Yang jelas, kata teman saya yang ngerti tentang pasokan energi nasional, kondisi cadangan energi kita memang makin menipis. Pemerintah mulai menggembar-gemborkan program penghematan, termasuk listrik. Tetapi teman tadi juga mengkritiknya. Dia berdalih bahwa definisi penghematan adalah pengurangan penggunaan energi (dalam hal ini listrik) tanpa menurunkan tingkat produktivitas. Kalau langkah penghematan adalah mematikan listrik dari jam sekian sampai jam sekian yang akibatnya adalah terhentinya kegiatan produksi, ya itu bukan penghematan meskipun penggunaan energi listrik memang berkurang. Tak tahulah ...

Yang jelas, mati listrik menjadi senjata ampuh istri saya untuk menyuruh anak-anak mandi. Rumah saya memang tidak menggunakan air dari PDAM, tetapi dari air tanah yang dipompa menggunakan pompa listrik atau sanyo kata orang sini. Jadi kalau listrik mati, air tidak bisa dipompa dan kami hanya bisa mengandalkan air di tank penampungan yang ada. Karena tidak tahu listriknya mati sampai kapan, tentu penggunaan air dari tank penampungan itu harus dihemat. Lha kalau listrik mati terus sampai besok pagi, bisa cilaka.

Karena itu kalau anak-anak agak malas mandi sore, istri saya bilang: “Cepat mandi, ini sudah mau hujan. Nanti listrik mati kalian nggak bisa mandi!” Ternyata itu cukup ampuh, anak-anak pun biasanya segera berebutan masuk ke kamar mandi.
Juga karena matinya listrik itu tidak diumumkan sebelumnya, kita harus selalu siap dengan lilin yang ditempatkan di lokasi yang pasti dan tidak dipindah-pindah. Maksudnya, ketika pas listrik mati, mudah untuk mencari lilin-lilin itu di tengah kegelapan.
Jadi mungkin bisnis lilin termasuk yang cukup prospektif di Indonesia. Karena itu sekarang orang berseloroh bahwa PLN akan berganti nama menjadi Perusahaan Lilin Negara !!!

Monday, September 22, 2008

SARUNG DAN KAMBING

(sebuah catatan sekitar 2 tahun yang lalu)

Ada perasaan bahagia yang tak bisa terlukiskan ketika anak saya meminta dibekali sarung pada hari ke-2 mereka bersekolah di Indonesia . “So that I can pray together with my friends, Bu!”, katanya. "That's it. This is why we went back to Indonesia!", bisik saya dalam hati. Anak-anak saya memang masuk sekolah siang. Jam 11 mereka sudah harus siap menunggu jemputan. Jadi, mereka harus sholat 2 kali di sekolah: Dzhuhur dan ‘Ashr. Dzhuhur sebelum bel sekolah tanda masuk berbunyi, dan ‘Ashr ketika mereka beristirahat. Di masjid dekat sekolahan dan di musholla sekolah memang biasanya disediakan sarung, tapi mereka tidak mau menunggu giliran dan rebutan pakai sarung inventaris macam itu.

Teringat pula celotehan seorang ibu yang juga bernasib serupa, kembali ke tanah air setelah sekian lama hidup di negeri impian Amerika. Dia bercerita setelah sekian bulan di Indonesia , anak gadisnya yang duduk di SMA kelas 1 waktu itu dikunjungi teman-teman di rumahnya. Ternyata pertanyaan pertama yang dilontarkan si anak gadis kepada teman-temannya adalah, “Hei, kalian sudah sholat belum, mau sholat di sini (rumah) saja?”
“Wah!”, kata sang ibu, “Hal yang mungkin tidak akan terjadi kalau kita menetap di Amerika.”

Pulang atau tidak pulang? Hal ini yang memang selalu memenuhi benak kita ketika berada di luar negeri. Kekhawatiran yang menggunung tentang ketidakpastian kondisi ekonomi (apalagi kalau bukan hal ini?), kesemrawutan negeri tercinta, ketidaknyamanan hidup dengan udara pengap dan kotor. Semua nampaknya semakin menggiring kita kepada keputusan yang mudah: tetap saja lah di luar negeri.

Hal lain adalah saat kita melihat anak-anak kita. Fasilitas yang nyaman dan wah yang diterima ketika mereka bersekolah di luar negeri. Ditambah kualitas guru yang well qualified, bahkan di public school sekalipun. Jangan tanya masalah kejelasan kurikulum dan program yang dirancang sedemikian rupa sehingga anak-anak merasa betah di sekolah. Itu semua nampaknya semakin memantapkan kita untuk terus menetap di luar negeri.

Makanya tidak bisa dibohongi, ada perasaan berat ketika tahun lalu saya memutuskan untuk mudik pulang kampung ke tanah air. Berat meninggalkan semua “kenikmatan” di atas, dan terbayang semua ketidakpastian dan beratnya hidup di tanah air, bahkan untuk seorang yang bergelar seorang doktor sekalipun. Apalagi melihat anak-anak, yang sudah tumbuh besar layaknya seorang real American. Lidahnya saja sudah kelu untuk berkata-kata dengan bahasa Indonesia . Anak ke-2 saya bahkan hanya bisa berhitung sampai 5 dalam bahasa Indonesia , saat itu.

Meskipun merasa sudah cukup mengkondisikan anak-anak untuk menghadapi suasana Indonesia , kekhawatiran yang besar tetap membayangi perasaan ketika melepas mereka sekolah di sini. “Prepare for the worst, face everything with a smile!”, begitu selalu saya katakan kepada mereka. Apalagi karena waktu kedatangan yang tidak pas, sekolah-sekolah swasta yang dianggap bermutu baik, tidak bisa menerima mereka karena kelas-kelas sudah penuh dan semester sudah berjalan. Masih beruntung, sebuah SD negeri unggulan ternyata bersedia menerima. Lumayanlah, meskipun negeri tetapi karena merupakan sekolah unggulan dan percontohan, mungkin kualitas (guru dan programnya) tidak jelek-jelek amat.

Semua kekhawatiran tentang anak-anak ternyata tidak terjadi. Anak-anak dengan cepat menyesuaikan diri dan merasa enjoy hidup di Indonesia . Sekarang kalau ditanya, pasti mereka menjawab lebih suka tinggal di Indonesia daripada di Amerika. Ternyata, hampir semua ex-luarnegeri-er kalau ditanya tentang anak-anaknya menjawab sama: anak-anak ternyata lebih menikmati sekolah di Indonesia .

Apalagi kemudian masuk bulan Ramadhan. Terlihat mereka enjoy sekali. “Ayah, Ramadhan di sini mah enak”, kata anak ke-2 saya, sekarang sudah dalam bahasa Indonesia dibubuhi aksen Sunda sedikit. Ya memang terbayang kondisi Ramadhan di Amerika sana. Meskipun pihak sekolah waktu itu sangat pengertian dan memberikan kesempatan anak-anak muslim untuk observe fasting, saya tetap membayangkan beratnya perang batin yang mungkin terjadi dalam diri anak-anak. Ketika anak-anak lain pergi ke kantin untuk makan siang, anak-anak muslim pergi ke Principal’s office menunggu waktu lunch selesai. Ketika ada pesta-pesta makan di kelas, mereka terpaksa harus mengatakan, ”Sorry, I am fasting”. Terbayang pula wajah guru mereka yang sama-sama merasa tidak enak dengan kondisi seperti ini. Apalagi di kelas anak tertua saya, hanya dia sendiri yang muslim, sedangan anak ke-2 saya masih mending ada teman muslminya dari Pakistan.

Saya baru merasakan, mungkin tahun inilah pertama kalinya anak-anak saya mengerti dan menghayati (dalam konteks anak-anak, tentunya) kehidupan Ramadhan. Tarawih jelas, mereka menikmatinya sambil ngobrol dan juga mungkin saling dorong. Mereka mengeluh kalau ceramahnya kepanjangan. Ya, khas dunia anak-anak. Yang jelas, ceria. Tanpa diminta juga, ketika tahu ada kegiatan i’tikaf di masjid di kompleks rumah, anak-anak saya langsung minta ijin untuk diperbolehkan ikut menginap di masjid. Buka sama-sama dan sahur sama-sama, juga dengan anak-anak lainnya.

Hal serupa terjadi menjelang Idul Adha kemarin. Untuk pertama kalinya saya berkurban dengan langsung melihat bahkan menyembelih kambing kurban saya sendiri. Bukannya dalam bentuk uang yang dikirim ke tanah air.
Anak-anak pun tampak menikmati momen kurban ini. Mereka nampak ingin berlama-lama menjaga kambing yang akan dikurbankan dan hanya pulang ke rumah karena waktu memang sudah malam. Besoknya, mereka pun cepat bangun untuk melihat lagi kambing tersebut. Aktifitas penyembelihan, pengulitan, pencacahan sampai pembagian daging kurban langsung ke mustahiqnya, diikuti pula oleh mereka dengan penuh perhatian. Yang membuat mereka senang juga adalah karena ada anak-anak lain yang juga seperti mereka. Bergurau, bermain dan sama-sama beribadah. Mereka tidak seperti anak-anak di tengah dunia asing, tetapi anak-anak muslim Indonesia di dunia anak-anak muslim Indonesia.

Lepas dan bebasnya kondisi hati. Mungkin itu jawabannya. Kita dan mungkin khususnya anak-anak merasa bebas dan terlepas dari keharusan menjadi seseorang yang bukan dirinya sendiri. Di Indonesia, mereka bisa merasakan kebebasan menjadi seorang Indonesia, seorang muslim yang hidup di dunia mereka sendiri. Ambiguity dalam personal mereka menjadi hilang.

Saya tidak menyatakan bahwa Islam tidak kompatibel dengan dunia Barat (Amerika khususnya). That’s not the question. Tetapi selama sistim masyarakatnya belum mendukung, kita tidak bisa merasakan dengan sempurna keindahan Islam itu sendiri.

Bagi anda yang berniat tinggal di Amerika untuk terus berdakwah menegakkan Islam di belahan bumi sana, silakan teruskan perjuangan anda. Saya juga berdo’a semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada anda dan keluarga anda.
Tetapi ketika anda memutuskan pulang ke tanah air, surga yang lain menanti anda di sini.

Friday, September 14, 2007

Lost Password

Well, after being "idle" for more than 3 years (I checked that my first -which happened to be my last post as well- was written in April 2004), today I encouraged myself to open my blogger again. I was having some troubles in finding the password of my blog. Even using the feature to remind my password did not help me at all, because they sent the password (or was it the hint?) to my e-mail address at plasa.com that I haven't opened it for a while, so that account was expired.

I was finally able to get in after some trials and errors using some of my default passwords.
But, silly me! I found out later that I should be able to get in actually using my gmail account. Yes, I remember that I got my gmail account through this blogspot when I signed up with this site.

OK, the moral of the story is that it is handy if you have some default passwords. When you sign up for a service (whatever it is), use one of these default passwords and don't try to create a brand new password. Believe me, I'm getting old to remember all the passwords I created, except the ones that I use almost every day.

Just several months ago, I created a password for my account on one of the servers in my office. The password was a rather complicated one; combining letters, numbers and some old characters. Well, after signing up, I didn't access my account on that server for two weeks. And guess what? I forgot that password and was not able to get in until now (I don't have time to contact the administrator to recover my account)!!

Saturday, April 10, 2004

I was reading articles about political polling. I just found out that based on its 1977's electoral law, France banned the publication of polling for a period of 1 week prior to the election. It has been changed now to 1 day prior to the election. But still, I thought France was a democratic country that allows freedom of speech.